BOGOR. Buser Fakta Pendidikan. Com
Semangat Idul Adha yang sarat makna keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT justru menyisakan kisah pahit bagi seorang pedagang hewan kurban asal Depok. Di tengah gema takbir dan pesan suci tentang menunaikan amanah, seorang penjual sapi mengaku harus menelan kerugian setelah pembayaran sapi kurban yang dibelinya diduga belum dilunasi hingga kini.
Adalah SUN (45), pedagang kambing dan sapi Master Farm Depok, yang mengaku masih menunggu pelunasan sebesar Rp12,5 juta dari total transaksi penjualan sapi senilai Rp22,5 juta kepada seorang pengusaha travel internasional berinisial FN.
Menurut keterangan SUN, pemesanan sapi dilakukan pada 26 Mei 2026. Saat itu disepakati uang muka sebesar Rp15 juta dibayarkan saat sapi tiba di lokasi pembeli, sementara sisa pembayaran akan ditransfer beberapa hari kemudian.
Namun, fakta di lapangan disebut jauh dari kesepakatan. Saat sapi tiba di kediaman FN pada dini hari 27 Mei 2026, pembayaran yang masuk hanya Rp10 juta melalui dua kali transfer. Sisanya dijanjikan akan segera diselesaikan.
"Saya bertahan di rumah pembeli sampai pagi karena pembayaran tidak sesuai kesepakatan," ujar SUN.
FN yang dikenal sebagai pengusaha travel sekaligus figur yang disebut memiliki rekam jejak di dunia perfilman nasional, saat itu meyakinkan penjual bahwa kekurangan pembayaran akan dituntaskan setelah Salat Idul Adha.
Namun harapan tinggal harapan.
Hingga memasuki akhir Mei 2026, pelunasan tak kunjung terealisasi. Berbagai alasan disebut terus bermunculan, mulai dari menunggu pencairan dana usaha hingga rencana penerimaan pembayaran dari sejumlah mitra bisnis.
Pada 1 Juni 2026, pembayaran yang dijanjikan kembali tidak terealisasi. Bahkan ketika dihubungi beberapa hari kemudian, FN mengaku sedang berada di Malaysia dan kembali menjanjikan penyelesaian setelah pulang ke Indonesia.
Merasa dipermainkan oleh rentetan janji tanpa realisasi, SUN akhirnya melayangkan somasi resmi pada 5 Juni 2026 sebagai upaya hukum untuk menagih haknya.
Ironisnya, hingga berita ini ditulis, pelunasan yang dijanjikan belum juga diterima. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai komitmen dan tanggung jawab pihak pembeli dalam menyelesaikan kewajibannya.
Seorang warga yang mengaku mengenal lingkungan tempat tinggal FN bahkan menyebut pernah ada pihak lain yang mengalami persoalan serupa.
"Ada yang pernah menagih sampai puluhan juta rupiah. Setahu saya sering dijanjikan terus sampai orang capek menagih," ujar warga tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Tak hanya itu, penelusuran tim menemukan sejumlah keluhan yang beredar di ruang digital terkait dugaan persoalan bisnis yang melibatkan nama FN. Mulai dari komplain sewa kendaraan yang disebut belum dibayarkan, laporan calon tenaga kerja yang mengaku telah menyetor biaya namun belum diberangkatkan, hingga kritik terhadap fasilitas penampungan pekerja migran yang dinilai tidak layak.
Meski demikian, seluruh temuan tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.
Kasus ini menjadi ironi di tengah momentum Idul Adha yang mengajarkan pentingnya kejujuran, amanah, dan menunaikan hak orang lain. Ketika nilai-nilai pengorbanan digaungkan dari mimbar ke mimbar, masih ada pihak yang mengaku harus berjuang keras menagih haknya sendiri.
Hingga berita ini diterbitkan, FN belum memberikan keterangan resmi ataupun klarifikasi atas tudingan dan keluhan yang dialamatkan kepadanya. Redaksi membuka ruang hak jawab kepada pihak yang bersangkutan untuk memberikan penjelasan sesuai ketentuan Undang-Undang Pers. (Tim )



