Iklan

Skandal Saluran Taman Narogong: Batu Kali Hilang 40 Cm, Negara Diduga Dirugikan

Selasa, 12 Mei 2026, Mei 12, 2026 WIB Last Updated 2026-05-12T08:54:23Z

 


Bekasi. Buser Fakta Pendidikan. Com


Proyek pembangunan saluran drainase di kawasan Taman Narogong Indah, Rawalumbu, Kota Bekasi, kembali menuai sorotan tajam. Proyek senilai Rp2.667.349.750 yang dikerjakan PT. LAMTORUS JAYA KONSTRUKSI itu diduga kuat menyimpan sejumlah penyimpangan teknis dan pengurangan volume pekerjaan yang berpotensi merugikan keuangan negara.


Sorotan keras itu disampaikan Ir. Mangiring Nadeak, Tenaga Ahli Utama Sumber Daya Air, usai melakukan investigasi lapangan pada 12 Mei 2026. Dari hasil pengecekan langsung di lokasi proyek di Jalan Taman Narogong Indah, Bojong Rawalumbu, ia menemukan sedikitnya tiga dugaan pelanggaran serius yang dinilai tidak bisa dianggap sepele.


Pasangan Batu Kali Diduga “Disunat” 40 Sentimeter

Mangiring mengungkapkan, berdasarkan dokumen teknis proyek, tinggi pasangan batu kali pada dinding saluran seharusnya mencapai 150 sentimeter. Namun saat dilakukan pengukuran di lapangan, tinggi yang ditemukan hanya sekitar 110 sentimeter.


“Ini bukan selisih kecil. Dugaan kuat ada pengurangan volume secara sengaja untuk mengejar keuntungan besar. Kalau selisih 40 sentimeter ini dikalikan panjang saluran ratusan meter, potensi kerugian negara bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah,” tegas Mangiring.


Menurutnya, praktik semacam ini merupakan pola klasik proyek infrastruktur bermasalah: spesifikasi di atas kertas dibuat ideal, tetapi realisasi di lapangan dipangkas diam-diam.


Pondasi Sloof Ikut Dipangkas

Tak berhenti pada pasangan batu, dugaan pengurangan volume juga ditemukan pada bagian sloof pondasi batu kali. Dalam spesifikasi teknis, tinggi sloof disebut harus 50 sentimeter. Namun hasil ukur di lapangan hanya menunjukkan 40 sentimeter.


“Sloof itu elemen vital penahan beban dinding saluran. Kalau dikurangi 10 sentimeter, kekuatan struktur otomatis turun drastis. Risiko jebol saat debit air tinggi sangat besar,” ujarnya.


Ia menilai pengurangan dimensi pondasi bukan sekadar kelalaian teknis, tetapi sudah mengarah pada dugaan pelanggaran mutu pekerjaan konstruksi.


Saluran Diduga Tanpa Elevasi yang Jelas

Temuan lain yang dinilai lebih fatal adalah dugaan tidak adanya pengaturan elevasi kemiringan dasar saluran. Saat tim meminta penjelasan mengenai bouwplank atau patok ukur elevasi, pihak pelaksana di lapangan disebut tidak mampu menunjukkannya.


“Saluran tanpa elevasi yang benar itu percuma dibangun. Air tidak akan mengalir normal, justru tergenang dan menjadi sumber penyakit. Ini menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengawasan. Kesan yang muncul: proyek dikerjakan asal jadi,” kata Mangiring.


Ia menilai persoalan drainase bukan hanya soal estetika proyek, tetapi menyangkut keselamatan lingkungan dan efektivitas pengendalian banjir di kawasan padat penduduk.


Data Proyek

Berdasarkan papan informasi proyek yang ditemukan di lokasi pada 12 Mei 2026 pukul 10.25 WIB, proyek tersebut tercatat sebagai:


Program: Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Drainase Perkotaan

Judul Pekerjaan: Pembangunan Saluran Taman Narogong

Lokasi: Rawalumbu, Kota Bekasi

Nilai Kontrak: Rp2.667.349.750

Penyedia Jasa: PT. LAMTORUS JAYA KONSTRUKSI

Waktu Pelaksanaan: 150 hari kalender

Desak Audit Investigatif dan Bongkar Ulang

Atas dugaan penyimpangan tersebut, Mangiring mendesak Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi segera mengambil langkah tegas.


Ia meminta dilakukan audit investigatif dengan melibatkan Inspektorat dan Badan Pemeriksa Keuangan untuk mengukur ulang seluruh volume pekerjaan terpasang.


Selain itu, ia juga meminta shop drawing dan as-built drawing dibuka ke publik guna memastikan apakah elevasi dasar saluran sesuai dengan Detail Engineering Design (DED).


“Pasangan batu yang kurang 40 sentimeter dan sloof yang kurang 10 sentimeter wajib dibongkar dan dikerjakan ulang sesuai spesifikasi. Biayanya harus ditanggung kontraktor, bukan uang rakyat lagi,” tandasnya.


Mangiring juga menyoroti peran konsultan pengawas yang dianggap lalai karena membiarkan pekerjaan berjalan di bawah spesifikasi teknis.


“Ini proyek Rp2,6 miliar dari uang rakyat. Kalau dibiarkan, jangan kaget kalau setahun kemudian saluran sudah retak atau ambruk. Modus sunat volume seperti ini bukan hanya merugikan negara, tapi juga membahayakan masyarakat,” pungkasnya.


Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi maupun PT. LAMTORUS JAYA KONSTRUKSI belum memberikan keterangan resmi terkait temuan tersebut. (Rohman/Rifai)



Komentar

Tampilkan

  • Skandal Saluran Taman Narogong: Batu Kali Hilang 40 Cm, Negara Diduga Dirugikan
  • 0

Terkini